Jumat, 14 Oktober 2011

DONGENG : Timun Suri


            Kali ini gue akan memberikan sebuah dongeng. Dongeng ini berawal ketika gue dan Alfa yang sudah terpisah Negara (gue di jogja, dia di Blora city) jadilah kami suka beSMS geje ria (berhubung kanjeng ratu Alfa sedang habis paket BB nya). Gue nggak tau kenapa setiap SMS dia ujung-ujungnya malah seperti bermain sinetron entah judulnya “azab wanita sang penggosip”, “majikan laknat”, atau “majikanku main santet” dan gue nggak jelas kenapa, pasti gue berlakon jadi majikan sedangkan Alfa jadi mbok-mbok pembantu (jiwa pembantu).
            Malem itu, seperti biasa gue dapet SMS yang berbunyi “woi jenk…udah tidur?” SMS itu tak lain dari Alfa dan akhirnya mulai lah kami SMS geje. Kali ini kami berdialog tentang cerita Timun Suri (plesetan dari cerita dongeng Timun Emas) Disini Alfa berlakon sebagai Mbok Paijem dan gue berlakon menjadi si timun suri…Beginilah ceritanya:
Di suatu desa nan jauh dari kota hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Paijem. Mbok Paijem tinggal disebuah rumah gubug mewah (bayangin!!) berlantai dua (gue nggak tau struktur bangunannya) yang berpagar seng tinggi. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Paijem tidak memiliki seorang anak. Sebenarnya dia ingin sekali mempunyai anak, agar bisa membantunya bekerja. Tapi bagaimana mungkin? Suami saja mbok Paijem nggak punya. Mbok Paijem yang berperawakan tinggi dan berlobang hidung gede ini sebenarnya sudah pernah menikah 3 kali, tapi semua suaminya mendadak mateek ketika selesai ijab Kabul (kasiaaan).
Pada suatu sore pergilah mbok Paijem ke hutan untuk mengkramas rambut hair extension nya, karena di rumahnya air dari PDAM sedang mati, maka mbok Paijem segera mencari danau di tengah hutan. Di tengah jalan mbok Paijem bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali. Raksasa itu berwarna hijau, berjenggot dan memiliki bulu ketek di kedua ketek dan dagunya. Alisnya tebal menjuntai, bulu kakinya banyak, perutnya buncit kedepan dengan menggunakan boxer unyu bergambar spongebob.
“Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa.
“Aku hanya mau mencuci rambut hair extensionku di danau dekat toko klontong di hutan itu, jadi ijinkanlah aku lewat”, jawab mbok Paijem.
“Hahahaha.... kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap”, kata si Raksasa.
Lalu mbok Paijem menjawab, “Tetapi aku tidak mempunyai anak”
Raksasa itu terdiam.
“Apakah kamu ingin meminangku dengan bismillah?” mbok Paijem kegeeran berharap si raksasa akan menikahinya.
Setelah mbok Paijem mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak dan raksasa yang ketakutan melihat kegenitan mbok Paijem, maka si Raksasa memberinya biji mentimun.
Raksasa itu berkata, “Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya enam tahun”.
Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Paijem baru tau, ternyata biji mentimun itu tumbuh menjadi timun suri (ternyata raksasa salah memberi biji) .Mbok Paijem kemudian mengambilnya , dan setelah dibelah dengan kekuatan bulan ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Rambut bayi itu keriting menjuntai menutup mukanya yang hitam kebiruan. Bayi itu kemudian diberi nama timun suri.
Semakin hari timun suri semakin tumbuh besar, badannya bongsor, perutnya buncit namun karna dia hanyalah berasal dari bibit timun suri, maka dia tumbuh besar berbentuk timun suri. Mbok Paijem sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya bisa selesai dengan cepat karena bantuan timun suri.
Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Paijem sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan timun suri.
Kemudian mbok Paijem berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap”.
Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Paijem.
Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Paijem mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Paijem sangat cemas sekali. Mbok Paijem berfikir jika timun suri dimakan raksasa siapa lagi yang bisa dijadikan pembantu di rumahnya. Akhirnya pada suatu malam mbok Paijem bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar timun suri menemui seorang dukun di Gunung.
Pagi harinya mbok Paijem menyuruh timun suri untuk segera menemui dukun itu. Setelah bertemu dengan dukun, timun suri kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya.
Sang dukun wanita yang berperawakan seperti Syahrini ini kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya dawet, santan, gula merah, dan es batu. “Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu”, perintah dukun itu.
“Baiklah, ibu dukun”
“alhamdulilah yah…”dukun wanita itu pun menghilang dibalik baju kaftannya
 Kemudian timun suri pulang ke rumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari sang dukun.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji.
“Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya”, teriak si Raksasa.
Kemudian mbok Paijem menjawab, “Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap”.
Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Paijem itu, dan akhirnya marah besar. “Mana anak itu? Mana timun suri?”, teriak si raksasa.
Karena tidak tega melihat mbok Paijem menangis terus, maka timun suri keluar dari tempat sembunyinya. (skenario mbok Paijem yang ternyata juga menginginkan timun suri mati dimakan raksasa)
“Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!!!”, teriak timun suri sambil memakai bikini supaya mengalihkan perhatian si Raksasa.
Raksasa pun mengejarnya. Raksasa ingin sekali menangkap si timun suri. Kebutulan saat itu adalah bulan puasa. Raksasa ingin sekali menyantap minuman es timun suri ketika bedug magrib berbunyi.
Raksasa berlari mengejar timun suri.
Timun suri naek ojek mencoba melarikan diri ke Jakarta sambil membawa bungkusan.
Tiba-tiba raksasa berhasil mengejar timun suri yang sedang asyik nongkrong di boncengan tukang ojek. Raksasa itu memegang ban motor tukang ojek, motor itu terjungkal masuk ke selokan.
“AAAaaa….”teriak timun suri di dalam selokan
“Hahaha…mau lari kemana kau. Aku sudah tidak sabar menyantap tubuhmu”
“Lepaskan aku tuan, tolong jangan kupas kulitku, jangan garuk dagingku…aku benci kau campurkan aku dengan sirop marjan di dalam gelas. Kau tidak tau betapa dinginnya aku bercampur dengan es batu. Tolong tuan raksasa, lepaskan aku. Aku takut kau santap aku di saat bedug magrib berkumandang” si timun suri sujud membasuh kaki raksasa dengan air selokan dan serbet yang dia bawa dari rumah
“Ohhh tidak bisaa…”raksasa masih mencengkram gaun unyunya si timun suri.
Timun suri baru ingat pesan dukun wanita yang mirip syahrini itu. Ia pun mulai membuka kantong yang berisi dawet, santan, gula merah, dan es batu. Sungguh ajaib, ketika si timun suri membuka bungkusan itu, raksasa pun terperangah.
Di dalam kantong itu ternyata ada secarik kertas berisi resep. Timun suri bingung membacanya, karna menulis saja dia tidak bisa.
“maap tuan raksasa, bisa kah kau membacakan kertas itu untukku?”pinta si timun suri dengan mata genit
Raksasa itu mengeluarkan kacamata dan membaca kertas itu. Tanpa disangka kertas itu berisi resep racikan minuman terdahsyat. Minuman dengan bahan es batu, santan, gula merah, dan dawet. Pelan-pelan bahu membahu raksasa dan si timun suri meraciknya. Sejak saat itulah minuman itu kemudian terkenal seantero jagat raya dengan sebutan es dawet.
Urunglah pula raksasa menyantap si timun suri, karna karna timun suri lah raksasa bisa menemukan minuman yang lebih enak sebagai pembuka puasa. Karna melihat kebaikan hati si timun suri, maka raksasa pun meminang timun suri untuk menjadi istrinya. Dan mereka pun hidup bahagia.
Sedangkan mbok Paijem kini hidup sendiri. Ia pun mulai berpindah-pindah rumah, dari mulai bekerja menjadi TKW di Arab sampai menjadi tukang rongsokan di Palestina dan Israel. Mengumpulkan besi-besi perang. Konon kabarnya ia sekarang menjadi juragan besi rongsokan setelah berhasil menjual tank hasil temuannya.


 NB: cerita asli disadur dari cerita dongeng Timun Emas
http://www.ceritaanak.org/index.php?option=com_content&view=article&id=45:cerita-dongeng-anak-2&catid=36:cerita-rakyat&Itemid=56

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar